Apa Sih NCAP? Ini Penjelasannya!

Apa Sih NCAP? Ini Penjelasannya!

Mungkin anda sering mendengar istilah Euro NCAP atau kalau di sini ASEAN NCAP. NCAP sendiri adalah singkatan dari New Car Assessment Program. Program ini menguji faktor keselamatan mobil baru. Pengujian ini dilakukan oleh badan independen. Tujuannya untuk membantu produsen mobil meningkatkan teknologi keselamatan pada produk mereka di masa depan.

NCAP pertama kali dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat, National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA). Mereka melakukan uji tabrak (crash test) pada mobil-mobil baru yang dipasarkan di Amerika Serikat sejak 1979 sebagai gambaran komparatif tingkat keselamatan mobil untuk konsumen mobil di sana.

Di Eropa, badan ini baru terbentuk pada 1996. Badan ini beranggotakan sejumlah organisasi yang berkecimpung di industri otomotif dan transportasi dari sejumlah negara di Eropa. Beberapa anggota dari badan ini diantaranya adalah Allgemeiner Deutscher Automobil-Club e V (ADAC), Bundesministerium für Verkehr und digitale Infrastruktur (Jerman), Department for Transport (Inggris), Ministerie van Infrastructuur en Milieu (Belanda), Ministere du developpement durable et des Infrastructures Département des Transports (Luksemburg), Generalitat de Catalunya (Spanyol), Fédération Internationale de l’Automobile (FIA) dan lainnya.

Pengujian dilakukan di sejumlah fasilitas pengujian yang tersebar di beberapa negara Eropa seperti Jerman (ADAC Technik Zentrum), Inggris (Thatcham Research), Italia (CSI) dan beberapa fasilitas pengujian teknis canggih lain.

Sejak pertama kali berdiri, NCAP telah menguji lebih dari 500 mobil. Euro NCAP telah menghancurkan tak kurang dari 1.800 mobil selama 20 tahun beroperasi. Tak hanya sekedar mengukur hasil uji tabrak kendaraan, Euro NCAP memiliki peran yang signifikan dalam meningkatkan standar keselamatan mobil. Badan ini telah merumuskan sejumlah penilaian tertentu dari beragam kriteria pengujian yang diterjemahkan dalam predikat bintang. Mobil yang tak memenuhi standar yang mereka tentukan bisa tak mendapat satu bintang pun.

Euro NCAP membagi pengujian dalam tiga kategori, yakni proteksi penumpang dewasa, proteksi penumpang anak, proteksi pejalan kaki, dan fitur keselamatan (safety assist). Saat melakukan pengujian, mereka tak hanya menghancurkan satu unit mobil. Pengujian dilakukan beberapa kali pada unit mobil dengan tipe yang sama berkali-kali untuk simulasikan beberapa jenis tabrakan.

Tabrakan dari depan (frontal) dilakukan pada kecepatan 64 kpj dengan objek tabrak struktur yang memiliki massa yang mirip dengan mobil yang diuji. Ada beberapa indikator pengujian dari hasil uji tabrak frontal ini. Selain melihat tingkat deformasi kendaraan dan gaya yang diterima penumpangnya, uji ini juga bisa melihat efektivitas dari fitur keselamatan seperti sabuk pengaman, airbag sampai pengereman darurat otomatis.

Euro NCAP juga melakukan uji tabrak dari samping dan belakang untuk melihat seberapa besar resiko cedera yang diterima penumpangnya. Tentu saja dalam pengujian ini mereka menggunakan boneka dummy yang telah dilengkapi dengan sejumlah sensor. Program ini juga melihat seberapa baik mobil yang diuji mengakomodasi fasilitas untuk penumpang anak seperti pengait ISOFIX untuk kursi anak dan sebagainya.

Simulasi menabrak pejalan kaki dengan menggunakan dummy dapat mendeteksi resiko cedera yang dialami oleh korban. Apakah desain muka mobil memiliki struktur yang menambah resiko cedera bagi pejalan kaki atau justru dapat mengurangi resiko tersebut. Sensor pendeteksi pejalan kaki juga diuji di sini, apakah bekerja secara baik atau tidak.

Terakhir, fitur keselamatan juga dinilai. Semakin banyak fitur keselamatan yang dimiliki mobil maka semakin besar kesempatan mobil ini mendapat lebih banyak bintang. Fitur keselamatan seperti Electronic Stability Control (ESC), speed limiters and warnings, lane keep assistance dan autonomous emergency braking adalah sejumlah fitur keselamatan canggih yang biasanya tertanam pada mobil baru yang dijual di Eropa saat ini.

Mobil yang dipilih oleh Euro NCAP dalam pengujian selalu tipe terendahnya. Makanya banyak produsen mobil Eropa yang berlomba menjadikan fitur keselamatan tersebut sebagai fitur standar yang sudah dimiliki oleh tipe termurah suatu produknya sekalipun agar dihitung dalam program ini.

Konsumen Eropa sangat memperhatikan faktor keselamatan mobil yang hendak mereka beli. Pengujian Euro NCAP ini pun sering menjadi acuan konsumen dalam membeli kendaraan. Itu sebabnya banyaknya produsen yang jualan mobil di sana sangat memperhatikan faktor keselamatan kendaraannya agar mendapat predikat yang baik pada pengujian ini. Syukur, belakangan ini sangat jarang sekali ada mobil yang mendapat predikat tiga bintang ke bawah.

Beda halnya dengan konsumen Indonesia. Asal murah pasti laris. Celakanya, hampir setiap mobil tipe termurah pasti memiliki fitur keselamatan yang paling minim. Beberapa fitur keselamatan aktif seperti traction control dan lainnya pasti dicopot untuk mengakomodasi harga yang lebih terjangkau. Celakanya lagi, pemerintah Indonesia sama lalainya dengan kebiasaan konsumen Indonesia yang kurang memperhatikan faktor keselamatan mobil. Misalnya, fitur airbag, rem ABS, traction control, side impact beam, atau fitur keselamatan standar lain tak diwajibkan terpasang pada mobil yang dijual di sini.

Bahkan, sekarang Asia Tenggara sudah memiliki badan serupa Euro NCAP yakni ASEAN NCAP. Badan ini adalah anggota dari Global New Car Assessment Program (GNCAP) dengan standar penilaian yang tinggi. Percaya atau tidak, badan ini justru diprakarsai oleh Malaysian Institute of Road Safety Research (MIROS) dengan anggota beberapa asosiasi otomotif dan transportasi dari Malaysia, Singapura dan Filipina.

Jadi, perhatian terhadap faktor keselamatan konsumen kembali lagi kepada produsen mobil di Indonesia. Untungnya ada beberapa produsen yang mulai memperhatikan hal ini. Toyota misalnya, produsen mobil asal Jepang ini telah menciptakan standar keselamatan dengan menanamkan fitur dual SRS airbag pada setiap mobil baru yang mereka jual bahkan untuk tipe termurahnya sekalipun. Sementara rem ABS ada pada hampir semua tipe termahal dari setiap produknya di Indonesia. Low Cost Green Car (LCGC) termurah Toyota, Agya sekalipun sudah punya fitur dual SRS airbags dan rem ABS. Semoga langkah ini ditiru oleh Datsun, dan produsen mobil lainnya di Indonesia.

Seharusnya pemerintah mengatur tentang hal ini dengan mewajibkan hadirnya fitur keselamatan standar pada mobil baru yang dijual di Indonesia. Sebagai gambaran, beberapa mobil 7-penumpang belum semuanya melengkapi dirinya dengan 7 sabuk pengaman 3-titik. Miris, nyawa konsumen Indonesia masih dipandang tak berharga oleh negeri terbesar di Asia Tenggara ini.

Untuk mengetahui lebih jauh tentang penilaian dan apa saja yang diuji oleh Euro NCAP anda bisa mengunjungi situs resmi mereka di sini.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.