Suzuki Swift ST 1.5 MT 2010

Suzuki Swift ST 1.5 MT 2010

Diantara semua mobil yang pernah saya miliki, Suzuki Swift adalah salah satu mobil yang paling saya sukai.

Jujur, mobil-mobil Suzuki sangat dekat dengan hidup saya. Perkenalan saya dengan Suzuki dimulai dengan Suzuki Esteem buatan tahun 1992. Lalu saya menggantinya dengan Suzuki Escudo versi tahun 1995. Mobil ini saya bawa ke Bandung untuk menemani aktivitas saya sehari-hari kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di sana. Sampai akhirnya Escudo kesayangan saya dibeli seorang saudara dan sebagai gantinya, Suzuki Baleno Milenium tahun 2002 yang mengantar kemanapun saya pergi.

Suzuki Baleno menemani perjalanan saya setiap pergi dan pulang ke bilangan Menteng untuk bekerja di  majalah Autocar Indonesia yang berkantor di sana. Cukup lama sedan itu menemani saya sampai akhirnya Baleno kesayangan dijual ayah saya. Padahal saya sudah modifikasi audionya dan ganti jok semi kulit. Untungnya, tak lama berselang ayah saya mengajak saya memilih penggantinya. Pilihan saya akhirnya berlabuh pada Suzuki Swift ST 1.5 bertransmisi manual buatan tahun 2010.

Memang mobil keluarga kami tak selamanya Suzuki. Beberapa mobil buatan merek lain sempat mampir di garasi rumah mungil kami seperti, Honda Civic, Daihatsu Charade, Toyota Kijang Super, Daihatsu Terios dan lainnya. Tapi pengalaman panjang memiliki beberapa mobil buatan Suzuki yang tak repot mengurusnya, cukup meyakinkan saya bahwa mobil Suzuki lagi lah yang akan menjadi teman perjalanan saya selanjutnya ketika itu.

Diantara semua mobil yang pernah saya miliki, Suzuki Swift adalah salah satu mobil favourite saya. Dimensinya ringkas, setir enteng, pedal kopling enteng, tuas transmisi enak dioperasikan dan performa mesinnya kencang namun tetap irit. Eits tapi tunggu dulu, bukan berarti mobil ini mobil yang sempurna. Simak dulu review lengkap pengalaman saya memiliki Suzuki Swift ST 1.5 MT selama kurang lebih tiga tahun.

Performa & Konsumsi BBM

Hal pertama dari Swift yang menarik perhatian saya tentu saja desainnya yang unik, mirip Mini Cooper. Bentuknya modern, bagus tapi tak terlalu berlebihan. Suzuki banget deh! Kesannya sederhana dan manis.

Tapi begitu injak pedal gas dalam-dalam, kecintaan saya pada mobil ini beralih pada performa mesinnya. Kalau tak percaya, tanya saja mereka yang pernah memiliki mobil ini. Tak satupun yang akan menyebut mobil ini lambat, dibanding kompetitor di kelasnya. Catatan akselerasi 0-100 kpj mobil ini bisa tembus 11 detik. Lumayan lah untuk ukuran mobil bermesin 1,5 liter.

Di Jepang, tenaganya sih 110 hp tapi masuk ke Indonesia tenaganya menjadi 100 hp dengan torsi puncak 143 Nm pada 4.000 rpm. Tenaganya ini disalurkan melalui transmisi manual 5-speed yang menurut saya penyaluran tenaganya sangat instan. Jeda saat pergantian gigi hampir tidak ada, tenaga terus tersalur sampai rpm tinggi. Melaju dengan kecepatan di atas 140 kpj bisa dengan mudah dicapai oleh mobil ini. Mungkin karena bobot mobil ini yang berkisar cuma di 1.030-1.050 kg. Tapi saya sendiri belum pernah sampai membuat jarum spidometer mentok di 180 kpj.

Meskipun kencang, konsumsi bahan bakar Swift terbilang irit. Apalagi varian manual ini. Konsumsi bahan bakar dalam kota bisa 10 kpl. Kalau luar kota bisa lebih dari 17 kpl. Konsumsi BBM rata-rata ya sekitar 13,5 kpl. Malahan menurut perasaan saya selama memiliki mobil ini, bisa lebih dari itu.

Kenyamanan & Rasa Berkendara

Bantingan suspensi Swift empuk banget. Terus terang saking empuknya malah membuat body roll jadi agak terasa berlebihan. Masalahnya, bukan cuma waktu menikung bodinya oleng. Tapi saat berakselerasi atau pas ngerem mendadak pun perpindahan distribusi bobot membuat hidung mobil terlalu menunduk atau menganga.

Tak hanya berpengaruh pada stabilitas berkendara, tapi kenyamanan penumpangnya pun berkurang saat mobil melaju dalam kecepatan tinggi. Tapi saat berkendara di kecepatan rendah, jalanan yang sedikit rusak atau melindas lubang jalanan tak jadi soal.

Terus terang, setir dan pedal kopling mobil ini sangat ringan. Apalagi kalau dibandingkan dengan Suzuki Baleno, mobil saya sebelumnya. Saya paling suka perpindahan gigi tuas transmisinya. Pergerakannya pendek mudah masuk gigi. Menyenangkan sekali mengendarai mobil ini.

Luas Kabin & Kepraktisan

Nah ini masalahnya. Suzuki Swift memiliki dimensi panjang 3.695 mm, lebar 1.690 mm dan tinggi 1.500 mm. Parkir atau bermanuver di gang sempit sih enak. Tapi coba saja duduk di kursi belakang. Jangan berharap orang dewasa bisa duduk dengan nyaman di situ. Atapnya yang menukik ke belakang membuat ruang kepala menjadi minim. Belum lagi lutut yang harus tertambat di bagian belakang sandaran punggung kursi depan. Memang inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa saya akhirnya menjual mobil ini setelah tiga tahun bersamanya.

Karena waktu itu keluarga muda, jadi penghuni kabin biasanya diisi saya, istri dan bayi. Memang muat. Tapi kalau punya bayi pasti banyak barang yang harus dibawa kemanapun kami pergi. Mulai dari perlengkapan bayi seperti popok, kapas, tisu, botol susu, peralatan mencuci botol, pokoknya macam-macam lah. Sewaktu anak saya sudah agak besar sedikit, mulai datang kebutuhan untuk memiliki kereta bayi. Di situ saya mulai merasa sedih. Karena mobil kesayangan pun harus diganti dengan yang lebih besar lantaran bagasinya tak mampu memuat kereta bayi.

Padahal kabinnya sangat hening dan tenang. Tak ada getaran ataupun suara berisik yang sampai mengganggu kenyamanan seluruh penghuni kabin. Bepergian seorang diri di jalanan yang lengang adalah cara terbaik untuk menikmatinya. Memang fitur di mobil ini sangatlah minim. Swift ST adalah versi rakitan Indonesia (CKD/Complete Knocked-Down). Sebelumnya Swift didatangkan secara utuh (CBU/Completely Built-Up) dari Jepang. Versi CBU fiturnya cukup lengkap. Sayangnya untuk versi CKD banyak fitur yang dilepas. Seperti tombol audio di lingkar kemudi misalnya.

Harga & Biaya Perawatan

Harga mobil ini pun masih cukup beragam. Mulai dari Rp 95 juta sampai Rp 110 jutaan. Tergantung kondisi dan penjualnya. Tapi yang jelas, selama saya memiliki mobil ini tak ada persoalan berarti yang pernah saya hadapi. Selama menjalani perawatan berkala dengan rutin, Swift saya tak pernah mengalami kerusakan berat yang sampai mengharuskan saya mengeluarkan kocek besar. Biaya perawatan ke bengkel resmi sekalipun normal-normal saja ketika itu.

Namun ada satu hal yang agak mengganggu. Ketika berkendara dalam kecepatan tinggi tercium bau mesin ke dalam kabin. Aroma ini berasal dari catalytic converter dari ruang mesin. Ada cara untuk mengakali hal ini, yaitu dengan memberikan sealant pada lubang di dinding pemisah antara ruang mesin dengan kabin.

Spesifikasi

Harga: Rp 95-110 juta, Mesin: 4-silinder inline 1,5 liter, 100 hp, 143 Nm, Transmisi: Manual 5-speed, Konsumsi BBM: 10 kpl (dalam kota), 17 kpl (luar kota/tol), 13,5 (rata-rata)