Daihatsu Xenia Li 1.0 MT 2009

Daihatsu Xenia Li 1.0 MT 2009

Sebelum ada Low Cost Green Car (LCGC), Daihatsu Xenia bermesin 1.0 liter ini adalah mobil 7-penumpang termurah di Indonesia.

Karena harganya murah, jadi sudah terbayang kan bagaimana kualitasnya bila dibandingkan mobil-mobil lain yang lebih mahal. Jadi begini, mobil ini cukup lama menghuni garasi rumah saya. Terus terang saja alasannya tidak lain dan tidak bukan karena konsumsi BBM mobil ini irit sekali. Tapi apa cuma itu saja kelebihan mobil ini? Lalu apa saja kekuranganya? Sebelum membahas pengalaman memiliki mobil ini, saya jelaskan dulu sedikit tentang mobil ini.

Daihatsu Xenia tahun 2009 ini adalah generasi pertama yang sudah mengalami facelift. Daihatsu meremajakan sedikit wajah Xenia pada 2007 dengan penggunaan gril depan yang sedikit lebih besar dan berwarna krom. Begitupun dengan bemper depan dengan desain berbeda yang posisi lampu kabutnya lebih ke bawah dibanding sebelumnya.

Kaca spion juga sudah tampil modern dengan imbuhan lampu sein. Sedangkan di bagian belakang ubahan hanya terjadi pada lampu belakang saja. Posisi dan bentuknya masih sama, hanya untuk versi ini diberi frame pemisah antara lampu mundur dan lampu rem dengan konsep tiga dimensi.

Unit yang saya bahan ini adalah tipe Li atau varian menengah. Bedanya dengan tipe yang paling murah banyak. Salah satunya adalah mobil ini sudah pakai power steering dan bukan velg kaleng seperti Xenia termurah.

 

Performa & Konsumsi BBM

Sekarang kita masuk ke performa. Mobil ini menggunakan mesin 1,0 liter yang bertenaga 62 hp pada 5.600 rpm dengan torsi puncak 90 Nm pada 3.600 rpm. Bayangkan, output ini masih kalah dari city car LCGC Daihatsu Ayla bermesin 1,0 liter yang tenaganya sekarang 65 hp pada 6.000 rpm dengan torsi puncak 86 Nm pada 3.600 rpm. Padahal, Xenia memiliki bodi yang berdimensi lebih besar dan bobot lebih berat pula tentunya.

Terlebih lagi, catatan output tenaga dan torsi Xenia itu tadi adalah on engine bukan on wheels. Artinya kalau dites di atas dynamometer, maka performa yang dihasilkan pasti lebih kecil lagi. Apalagi mobil ini usianya sudah lebih dari 8 tahun. Maka ada degradasi performa karena usia pakai komponen mesin. Ditambah mobil murah seperti ini paling banyak pakai bensin murah alias premium. Saya curiga tenaganya sekarang bisa di bawah 50 hp.

Terasanya saat melaju bersama mobil ini. Jangankan untuk melaju kencang, saat berjalan perlahan di dalam permukiman penduduk saja di gigi dua sudah tergopoh-gopoh. Kecuali Anda terus menambah kecepatan dan lanjut pindah ke posisi gigi yang lebih tinggi. Itupun kalau ingin pindah gigi harus benar-benar di rpm tinggi kalau tak ingin saat pindah gigi justru malah mesin ngelitik. Terasa sekali benar-benar butuh usaha yang cukup besar bagi mesin untuk menggerakkan mobil. Bukan transmisi masalahnya. Soalnya waktu diajak berakselerasi, nafas antar giginya pendek-pendek. Memang sudah paling ideal untuk mobil perkotaan. Hanya tenaga mesin saja yang kurang memadai.

Sebagai catatan, sejarah perawatan mobil ini sangat baik karena selalu ditangani oleh bengkel resmi dan mengikuti interval perawatan berkala sesuai buku panduan. Dan memang dari sejak baru pun ya sudah seperti itu performanya. Saran saya, perhitungan harus benar-benar pas kalau ingin menyalip truk panjang di jalanan yang cuma 2 lajur. Pastikan jarak dengan mobil dari arah berlawanan benar-benar sangat jauh. Karena akselerasi dari kecepatan menengah ke tinggi juga terasa sangat lambat.

Konsumsi BBM mobil ini di dalam kota ya standar di kisaran 10 kpl. Tapi kalau ke luar kota atau di jalan bebas hambatan bisa mencapai 17 kpl lebih. Ingat, mesin mobil ini masih teknologi lama alias belum Dual VVT-I seperti Xenia terbaru yang bermesin 1,3 liter.

 

Kenyamanan & Rasa Berkendara

Oke, performa kurang membanggakan. Gimana rasa berkendara dan kenyamanannya? Memang di jamannya terbilang oke untuk ukuran mobil murah. Tapi sekarang perkembangan industri otomotif telah menuntut pabrikan untuk menghasilkan mobil yang nyaman bahkan untuk mobil murah sekalipun. Contohnya Toyota Calya dan Daihatsu Sigra. Dibanding kedua mobil itu, Xenia ini lumayan tertinggal soal kenyamanan dan rasa berkendara.

Misalnya, bantingan suspensi Xenia generasi pertama dikenal terlalu mantul-mantul saat melewati jalanan yang bergelombang. Ini jelas mempengaruhi stabilitas berkendaranya. Ini karena bantingan suspensinya yang sangat empuk. Kalau diisi penuh 7-penumpang atau barang, suspensi belakangnya lumayan ambles.

Untungnya tak ada masalah untuk pergerakan kemudinya. Bobotnya sudah ringan karena pakai power steering. Begitupun dengan pedal-pedal yang posisinya pas dan tak sampai bikin pegal. Kecuali macet parah ya.

Tapi sayangnya tak banyak fitur yang dipunyai mobil ini. Tak ada pengaturan posisi setir. Kursi baris keduanya tak bisa direbahkan atau digeser maju-mundur. Kekedapan kabinnya pun kurang baik. Bahkan saat lagi melaju di jalanan yang kurang mulus, ada suara berisik dari arah pintu belakangnya. Ini karena minimnya karet bantalan pintu dengan bodi. Jadi saat pintu belakangnya tertutup ada bunyi metal yang saling beradu.

Xenia tipe ini masih pakai atap dari bahan semi kulit. Jadi saat hujan lumayan berisik. Siraman sinar matahari yang menyengat juga jadi langsung dihantarkan ke dalam kabin mobil kalau sedang dijemur. Masalahnya, AC mobil ini belum double blower. Jadi butuh waktu bagi lubang AC di bagian depan untuk mendistribusikan udara segar ke seluruh bagian kabin.

Bagaimana dengan sistem hiburannya? Jangan banyak berharap. Aslinya mobil ini hanya dibekali head unit audio single DIN dengan format kaset. Belum ada colokan USB apalagi layar sentuh dan navigasi. Mobil tes ini head unit-nya sudah saya ganti pakai head unit 2-DIN milik Suzuki Swift facelift generasi pertama. Baru bisa setel CD dan kualitas suara yang dihasilkan pun meningkat.

 

Luas Kabin & Kepraktisan

Duet Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia sebelum kehadiran kompetitornya, adalah mobil termurah dengan dimensi terbesar. Sekarang sih sudah banyak kompetitornya yang lebih lega. Tapi dulu mobil ini pilihan paling masuk akal untuk konsumen menengan di Indonesia. Kabinnya bisa muat menampung 7-penumpang. Kursi baris ketiga memang punya ruang kaki dan ruang kepala yang terbatas. Tapi kalau kursi baris ketiganya ditegakkan, tak ada ruang sama sekali untuk menaruh bagasi. Itupun proses melipat kursi baris ketiganya agak repot. Karena setelah sandarannya ditidurkan, harus dilipat menempel dengan kursi baris keduanya.

Kepraktisan mobil ini memang bukan yang terbaik, Maklum dulu belum banyak saingannya. Misalnya ya itu tadi, kursi baris keduanya tak bisa digeser maju mundur dan sandaranya tak bisa direbahkan. Belum lagi posisi ban serep yang di bawah lantai mobil. Untuk membukanya pun cukup bikin pegal tangan, karena baut penahan dudukan ban serep harus diputar pakai kunci ban dari bagian bemper. Menurunkan ban serep juga harus sedikit ‘ngolong’. Bayangkan kalau kondisi jalanan basah habis diguyur hujan.

 

Harga & Biaya Perawatan

Nah ini dia nilai utama mobil ini. Harganya murah. Daihatsu Xenia Li 1.0 MT tahun 2009 bekasnya dijual di kisaran harga Rp 80 jutaan. Sudah begitu, biaya servis dan suku cadangnya murah. Itupun, suku cadangnya banyak ditemui. Misal, pernah tali kipas dan timing belt mobil putus di tengah jalan. Langsung menepi dan tanya bengkel terdekat. Rata-rata bengkel umum manapun punya stok suku cadangnya. Ongkosnya pun jauh relatif terjangkau tergantung bengkelnya.

Artinya kalau anda bepergian, lalu mobil mengalami masalah dan harus ganti komponen. Tak perlu pusing karena suku cadangnya sulit dicari. Lebih asiknya lagi, bengkel resmi Daihatsu sangat banyak dan penyebarannya pun sampai ke pelosok. Kalau gak nemu bengkel resmi Daihatsu, Xenia bisa servis di bengkel resmi Toyota yang jumlahnya paling banyak se-Indonesia.

Spesifikasi

Harga: Rp 80 jutaan, Mesin: 3-silinder, 1.0 liter, 62 Hp / 5.600 rpm, 90 Nm / 3.600 rpm, Transmisi: Manual 5-speed, Konsumsi BBM: 10 kpl (dalam kota), 17 kpl (Tol/luar kota), 13,5 kpl (rata-rata).